Membuat Batik Ecoprint Teknik Steaming ala MAN 2 Rembang

Tampak siswa sedang menjemur kain yang sudah bermotif. Sementara beberapa lainnya mengambil dedaunan yang menempel di kain yang sudah selesai dikukus.

Mereka sedang membuat batik ecoprint sebagai bagian dari implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan Lil ‘Alamin (P5RA). Mengangkat tema “Kearifan Lokal”, MAN 2 Rembang melanjutkan P5RA setelah sukses pada tema 1 dengan tema “Suara Demokrasi”.

Koordinator Tim P5RA MAN 2 Rembang, Nurul Chotimah mengatakan kegiatan proyek dengan tema Kearifan Lokal ini diimplementasikan dalam pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU).

“Pada tema ini anak dikenalkan pembuatan batik ecoprint. Ecoprint ini merupakan salah satu jenis batik yang metode pembuatannya memanfaatkan pewarna alami dari tanin atau zat warna daun, akar atau batang yang diletakan pada sehelai kain. Jadi bisa dikatakan ramah lingkungan,” imbuh Nurul yang juga guru Biologi ini.

Ia menambahkan dalam poyek ini ada 4 modul yang dipersiapkan. Modul pertama berisi pengenalan ecoprint dan kearifan lokal. Modul 2 membahas tentang pengenalan alat dan bahan ecoprint. Praktek pembuatan ecoprint terdapat di modul 3. Sementara modul 4 berisi pembuatan rincian anggaran dan penjualan dengan membuat iklan penjualan serta pemasaran.

Para siswa sedang memilih daun untuk dijadikan motif (foto: jurnalistik mandura)
Proses penempatan daun pada kain (foto: jurnalistik mandura)

“Dengan P5RA ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi siswa. Mereka bisa mengetahui kekayaan budaya kita melalui batik. Setelah dilatih membuat ecoprint ini diharapkan pada anak-anak tumbuh sikap mandiri, disiplin  dan berjiwa entrepreneur,” pungkas Nurul.

Sementara itu guru PKWU, Sri Lestari Indriana Putri yang akrab disapa Tari menjelaskan bahwa untuk pembuatan ecoprint ini setiap kelas dibagi menjadi beberapa kelompok yang mana setiap kelompok satu kain ecoprint. Untuk kain yang dipakai merupakan kain mori primis. 

Pembuatan ecoprint ini memerlukan waktu beberapa hari dalam beberapa tahap. Awalnya siswa menyiapkan kain yang dicuci bersih menggunakan detergen. Langkah kedua dengan mordanting kain. 

“Tahap ini bertujuan membuka pori-pori kain sehingga warna dari daun akan mudah diserap kain. Pada proses mordant ini kain dilarutkan ke dalam air yang dengan dicampur cuka, tawas. Bahan ini direbus selama kurang lebih 2 jam,” ungkap Tari.

Desain motif dari daun (foto: jurnalistik mandura)
Penjemuran setelah proses steaming (foto: taripict)

Setelah kain siap baru masuk proses ecoprint. Siswa sebelumnya sudah diberitahu untuk menyiapkan berbagai macam daun yang akan dicetak pada kain. Tidak ada spesifikasi khusus untuk jenis daunnya. Ada yang bentuknya lebar seperti daun jati, maupun yang kecil. 

Para siswa membawa beberapa daun seperti Jati, kenikir, cemara, ketela, jambu, pepaya, yodium. Menurut Tari, terutama seperti daun jati mempunyai kandungan pigmen warna yang kuat, sehingga warna yang terserap pada kain cukup terlihat. 

Daun-daun tersebut ditata pada kain yang dibentangkan. Desain penataan daun sesuai dengan keinginan dan kreativitas siswa. Ada yang simetris ada juga yang sesuka hati. Yang pasti tidak boleh ada yang ditumpuk karena jejak daun hasilnya tidak terlihat.

Setelah proses penataan daun selesai, kain yang sudah dilapisi plastik kemudian digulung dan diikat. Dengan teknik steaming, kain tersebut dikukus selama 2 jam. Setelah dikukus, kain dibuka dan diambil sisa-sisa dedaunan, selanjutnya di anginkan di tempat teduh selama kurang lebih 3 hari.

“Untuk kainnya bisa diberi warna sesuai keinginan. Sementara tahap terakhir pada teknik ini yaitu fiksasi. Kain yang sudah jadi dicuci lagi menggunakan tawas dan dijemur di tempat teduh selama 5 hari,” lanjutnya.

Kepala madrasah saat meninjau proses pembuatan ecoprint (foto: taripict)
Siswa memperlihatkan kain yang sudah diproses steaming (foto: taripict)

Ika Izzatun Nafsi, salah satu siswi MAN 2 Rembang saat dimintai keterangan menyatakan senang dengan adanya proyek pembuatan ecoprint ini. Ia merasa banyak manfaat yang bisa diambil diantaranya bisa lebih mengenal khasanah budaya batik.

“Sebelumnya saya belum pernah mendengar apa itu ecoprint. Dengan adanya proyek ini saya jadi lebih mengenal ecoprint dan proses pembuatannya,” ujar siswi kelas X J tersebut.

Menurut Ika, untuk bahan daun juga tidak terlalu sulit dicari. Ia bersama anggota kelompoknya menggunakan daun jati muda, jaranan, paku-pakuan, kenikir, ketela, jambu, dan pepaya yang banyak ditemui sebagai motif ecoprint-nya.(huda)

Siswi berpose bersama hasil ecoprint (foto: nurulpict)
Ecoprint yang sudah jadi (foto: nurulpict)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *